Tentang Saya
bio data
-
Nama Lengkap: Abdul hakim
-
Tempat Lahir: Padang Laweh
-
Tanggal Lahir: 4 Maret 2006
-
Jenis Kelamin: Laki-Laki
-
Motto hidup: kami tidak meragukan pelanggan meskipun permintaannya aneh-aneh
riwayat pendididkan
-
TK: AL-Irsyat
-
SD: SDN 10 Batang Silasiah
-
MTsS: Diniyah V Juarai Sungai Pua
-
MAS: Diniyah V Juarai Sungai Pua
-
MAS: Diniyah V Juarai Sungai Pua
Abstrak
Karya imiah ini disususn oleh Abdul Hakim, NID/NISN 121213060034193189/0069781690. Karya imiah ini berJudul Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 85–89, MAS Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai Sungaipua, 2025, berisi 49 Halaman.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah Qawa’id Tafsir, Qawa’id Lughawiyah, dan Fawa’id Ayat surah Ali ‘Imran ayat 85–89. Batasan masalah dalam karya ilmiah ini adalah penafsiran para ahli tafsir tentang surah Ali ‘Imran ayat 85–89. Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui penafsiran para ahli tafsir tentang surah Ali ‘Imran ayat 85–89.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah Qawa’id Tafsir,Qawa’id Lughawiyah, dan Fawa’id Ayat surah Ali ‘Imran ayat 85–89.Batasan masalah dalam karya ilmiah ini adalah penafsiran para ahli tafsir tentang surah Ali ‘Imran ayat 85–89. Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui penafsiran para ahli tafsir tentang surah Ali ‘Imran ayat 85–89.
Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam ayat ini, yaitu surah Ali ‘Imran ayat 85–89 membahas nilai akidah, yaitu mengesakan Allah SWT dan rasul-Nya dalam segala aspek kehidupan. Ayat ini mengingatkan tentang kekuasaan Allah SWT dan melarang penyekutuan-Nya dalam segi apa pun serta mengingatkan tentang kewajiban umat Islam untuk taat berakidah kepada Allah SWT dan rasul-Nya, sisi hidayah yang terdapat pada ayat ini, yaitu pentingnya konsisten dalam beriman dan tidak berpaling dari kebenaran, karena Allah SWT tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir setelah beriman dan menyaksikan kebenaran yang dibawa Rasulullah SAW, balasan amalan atau perbuatan orang-orang kafir yang berpaling dari kebenaran akan mendapat laknat dari Allah SWT, para malaikat, dan seluruh manusia. Hal ini memberi pelajaran bahwasanya kekufuran dapat mendatangkan laknat dari segala sisi, kesempatan kedua bagi orang-orang yang telah terjerumus kepada jalan yang sesat masih bisa kembali kepada jalan kebenaran, yaitu kembali kepada jalan yang diridai oleh Allah SWT.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Islam mengajarkan tentang tauhid, yaitu keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan: Allah yang Maha Esa. Islam memiliki lima rukun utama yang menjadi dasar keimanan seseorang.
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Al-Qur’an merupakan kalam atau firman Allah SWT yang membacanya merupakan satu ibadah.1 Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Bagi umat Islam, Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup dan petunjuk bagi umat Islam serta menjamin kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun akhirat kelak. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah aArtinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”
Manusia harus memahami isi yang terkandung dalam Al-Qur’an. Namun, bagaimana memahami Al-Qur’an yang mengunakan bahasa Arab? Apakah dengan membaca Al-Qur’an bisa memahami isinya?
Jika berpedoman kepada terjemahan Al-Qur’an saja, manusia tidak akan paham makna yang terkandung di dalamnya, atau bahkan bisa salah memahami isi dalam Al-Qur’an. Salah satunya seperti tejemahan surah Al-Alaq ayat 1–5 yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Bukankah dengan membaca terjemahan saja manusia akan sulit memahaminya? Hal ini dikarenakan Al-Qur’an menggunakan bahasa yang tinggi, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan penjelasan yang disebut tafsir.
Nabi dan rasul ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umatnya. Kebanyakan dari manusia tersebut mengikuti ajaran Islam. Akan tetapi, tidak sedikit pula dari manusia yang meragukan bahkan tidak meyakini kebenaran tersebut dan mempertanyakan tentang kebenaran ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga mereka membantah dan tidak mempercayai bahwasanya Nabi Muhammad adalah rasul dan mereka memperdebatkan kebenaran tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk menguraikan lebih rinci serta menjelaskan permasalahan yang berkaitan dengan keesaan Allah, agama yang diridai Allah SWT, dan orang yang tidak mempercayai bahwasanya Nabi Muhammad sebagai utusan Allah SWT dalam karya ilmiah berjudul “Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 85–89”.
Rumusan Masalah