Tentang Saya

biodata

  • Nama:Ahlil Fikri
  • Tempat Lahir:Malampah
  • Tanggal Lahir:23 Agustus 2006
  • Jenis Kelamin:Laki-Laki
  • Motto Hidup:Hidup santai masadepan cerah istri cantik dan kaya mati syahid

Riwayat Pendidikan

  • SD 2013-2019 SDN 04 SIPARAYO
  • MTsS 2019-2022 PONPES DINIYAH LIMO JURAI
  • MA 2022-2026 PONPES DINIYAH LIMO JURAI

Abstrak

Ahlil Fikri, NID/NISN 131213060017230504/006167601, Judul: Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 90—92, MAS Diniyah Limo Jurai, Sungaipua, 2025, berisi 59 hal.

Masalah yang penulis bahas dalam karya tulis ini adalah bagaimana qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 90—92. Batasan masalah karya ilmiah ini adalah berfokus pada penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 90—92 berdasarkan pandangan ahli tafsir. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali’Imran ayat 90—92.

Proses penelitian menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur) yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang digunakan penelitian ini, yaitu dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, di antaranya: Tafsir Al-Misbah, Tafsir An-Nur, Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Manar, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Ad- Durul Mantsur fi At-Tafsir bi Al-Maktsur, Shafwah At-Tafasir, Tafsir Bahrul Muhith, Tafsir Al-Quran Al-Azim, Aysar At-Tafasir, Taysir Karim Ar-Rahman fii At-Tafsir Al-Kalam Al-Mannan, Tafsir Jaami‟ Al-Bayan „an Takwil Ayyi Al-Quran, Tafsir Al-Azhar, dan Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir. Selain kitab-kitab tafsir, penulis juga mengambil referensi dari jurnal dan buku yang berkaitan dengan masalah yang terdapat dalam ayat tersebut.

Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini, yaitu surah Ali ‘Imran ayat 90—92 memiliki qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat. Penafsiran para mufasir pada surah Ali ‘Imran ayat 90—92 terdapat beberapa kandungan. Pertama, kebajikan, yaitu melakukan kebaikan: petunjuk yang mengantarkan menuju surga. Kedua, seorang hamba tidak akan mencapai kebaikan dari Allah dan kenikmatan akhirat yang ada di sisi-Nya, kecuali setelah ia menginfakkan harta yang paling dicintainya. Ketiga, segala kebaikan tidak akan sia-sia di sisi Allah, baik besar maupun kecil, selama dilakukan dengan niat ikhlas karena-Nya. Keempat, sunnatullah (ketetapan Allah) terhadap orang-orang yang tenggelam dalam kekufuran, kezaliman, atau kefasikan dan telah melampaui batas adalah bahwa mereka tidak akan diberi taufik untuk bertaubat. Kelima, putus asa dari keselamatan orang yang mati dalam keadaan kafir pada hari kiamat. Keenam, tidak ada tebusan yang diterima pada hari kiamat dari siapa pun, dan tidak ada seorang pun yang dapat menebus orang lain pada hari itu.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Bagian ini mengemukakan apa yang akan di bahas dari ayat yang sudah ditentukan untuk diambil faedahnya, dan bukan untuk mencari masalah yang harus dikaitkan dengan ayat.

Rumusan Masalah

Bagian ini menjelaskan pada ayat yang akan dilakukan penelitian. Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan kepada ayat yang sudah ditentukan saja.

Tujuan Penelitian

Bagian ini memuat penjelasan tentang sasaran yang lebih spesifik dan hal yang menjadi tujuan penelitian.

Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an dalam agama Islam merupakan firman Allah SWT yang berfungsi sebagai pedoman bagi kehidupan manusia di dunia ini dan sebagai penjelas segala sesuatu, sehingga tidak ada sesuatu pun yang terlewatkan dalam pembahasan Al-Qur’an.1 Sungguh sangat rugi dan naif bila seseorang atau pelajar muslim tidak mempelajari dan mengambil petunjuk dan rahmat Allah SWT yang telah diturunkan melalui Al-Qur’an sebagai sumber ajaran-Nya. Sesungguhnya Al-Qur’an merupakan kitab yang penuh dengan kebenaran dan menjadi penyempurna dan pedoman hidup manusia. Hal ini diterangkan Allah SWT dalam Firman-Nya:

الله الذي انزل الكتاب بالحق والميزان وما يدريك لعل الساعة قريب

Artinya: “Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat ?” (Q.S Asy-Syura (42) : 17)

Al-Quran sebagai sumber kebenaran dan keseimbangan untuk memberikan petunjuk dari berbagai persoalan tercantum juga di dalam Firman-Nya:

ان هذا القران يهدي للتي هي اقوم ويبشر المؤمنين الذي يعملون الصالحات ان لهم اجرا كبيرا

Artinya: “Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Q.S Al-Isra’(17) : 9)

Maka sungguh beruntunglah bagi orang-orang beriman yang memahami dan mempelajari Al-Qur’an, karena menurut orang-orang beriman, Al-Qur’an merupakan suatu kitab yang penuh akan kebenaran dan keadilan bagi seluruh makhluk, serta menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan di dunia. Sebaliknya bagi orang-orang kafir, justru mengingkari dan membantah adanya ayat-ayat Al-Qur’an tersebut. Sekalipun sudah diberi peringatkan oleh Allah SWT, tetap saja ia membangkang dan tidak mau beriman. Sebagaimana Firman-Nya:

ان الذين كفروا سواء عليهم ءانذرتهم ام لم تنذرهم لا يأمنون

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kufur itu sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman”. (Q.S Al-Baqarah (2) : 6)

Maksud dari orang-orang kafir adalah Ahlu-Kitab yang beriman kepada Rasulullah SAW dan bersaksi bahwa beliau benar, sebelum diutus dan ingkar setelah Muhammad menjadi nabi dan rasul. Kekafiran mereka kian bertambah dengan terus-menerus ingkar dan selalu menghambat jalan Allah, dengan memerangi dan memusuhinya. Kekufuran itu terus bertambah dengan kekuatan dan kemantapan setelah mengamalkan hal-hal yang bisa menyuburkan dan menambah kekuatannya, yaitu amal-amal yang bertentangan dengan keimanan, begitu halnya masalah keimanan.

Mereka adalah orang-orang yang tidak akan di terima taubatnya, karena kejahan sudah berakar dan kekufuran sudah terpatri dalam jiwa mereka. Bila 3 hendak bertaubat jiwa mereka berontak, sehingga menjadi gelap tidak bisa menerima kebenaran dan kebaikan2. Sebagaimana Firman-Nya :

Artinya: 90. Sungguh, orang-orang yang kafir setelah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, tidak akan diterima tobatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat. 91. Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong. 92. Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui. (Q.S Al-Imran (4) : 90—92)

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis ingin mengetahui hukuman bagi orang kafir karena kekafirannya dalam sebuah karya imiah berjudul ”Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 90—92”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, dapat dirumuskan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan ini, yaitu:

  • Bagaimana kaidah tafsir surah Ali ‘Imran ayat 90—92?
  • Bagaimana kaidah kebahasaan surah Ali ‘Imran ayat 90—92?
  • Bagaimana faedah ayat surah Ali ‘Imran 90—92?

Tujuan Penelitian

1

Mengetahui kaidah tafsir surah Ali ‘Imran ayat 90—92.

2

Mengetahui kaidah kebahasaan surah Ali ‘Imran ayat 90—92.

3

Mengetahui faedah ayat surah Ali ‘Imran ayat 90—92.