Tentang Saya
BIODATA
-
Nama : Ahmad Zaky Rizaldy
-
Tempat Lahir : Bukittinggi
-
Tanggal Lahir : 28 Agustus 2006
-
Jenis Kelamin : Laki-laki
-
Motto Hidup : Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugrah
RIWAYAT PENDIDIKAN
-
TK : TK Islam Ar-Raudhah
-
SD : SDN 13 Cingkariang
-
MTs : MTsS Diniyah Limo Jurai
-
MA : MAS Diniyah Limo Jurai
Abstrak
Karya Ilmiah ini disusun oleh Ahmad Zaky Rizaldy, NISN/NID 131213060017230507/0061372129, karya ilmiah ini berjudul Penafsiran Surah Ali Imran Ayat 98—101, di MAS Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, berisi 59 hal.
Masalah yang penulis bahas dalam karya tulis ini adalah bagaimana qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali Imran ayat 98—101? Batasan masalah karya ilmiah ini adalah surah Ali Imran ayat 98—101 berdasarkan pandangan ahli tafsir. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali Imran ayat 98—101.
Dalam proses penelitian, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Jenis penelitian kepustakaan dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur) yang berkaitan dengan permasalahan untuk meletakkan landasan teori.
Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang digunakan penelitian ini yaitu, dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, diantaranya: Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Munir, Tafsir Al- Maraghi, Shafwah Al-Tafasir, Tafsir Al-Quran Al-‘Azim, Aysar Al-Tafasir, Al- Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an (Tafsir Al-Qurthubi), Tafsir Al-Azhar, Tafsir Hada’iq Al-Ruh Wa Al-Raihan, dan lain-lain. Selain kitab-kitab tafsir, penulis juga mengambil referensi dari jurnal dan buku yang berkaitan dengan masalah yang terdapat dalam ayat tersebut.
Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini, yaitu: Surah Ali Imran ayat 98—101 memiliki qawa'id tafsir yang menonjol yaitu qasas Al-Quran. Surah ini juga memiliki qawa'id lughah menonjol yaitu balaghah, yang mana dalam ayat ini terdapat istifham inkari. Penafsiran para mufasir pada surah Ali Imran ayat 98—101 terdapat beberapa kandungan. Pertama, tampaknya kepedihan dari kekufuran dan kezaliman yang jelek dari ahlul kitab, yang mana mereka tahu akan kebenaran risalah Muhammad SAW namun tetap mengingakarinya. Hal tersebut terjadi karena rasa iri hati di dalam diri mereka. Diperlukan kehati-hatian dalam berinteraksi dengan mereka agar tidak mudah terpedaya oleh hasutan mereka. Kedua, haram hukumnya memalingkan manusia dari jalan kebenaran, yaitu Islam. Ketiga, Allah mengetahui semua perbuatan manusia yang diperbuatnya. Maka kita harus senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Keyword : Tafsir tahlili; Surah Ali Imran ayat 98-101; Kesesatan dan penyesatan ahlul kitab.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Di berbagai belahan dunia, manusia akan selalu berpegang pada suatu agama yang mereka yakini, baik dari zaman dahulu sampai zaman sekarang. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia membutuhkan kehidupan rohani untuk menenangkan jiwa. Bentuk kehidupan rohani ini adalah ibadah. Ibadah merupakan relasi atau hubungan yang baik antara seorang hamba dengan Tuhannya. Agama yang ada di zaman sekarang juga bermacam-macam, antara lain Islam, Yahudi, Nasrani, Majusi, Hindu, Budha, dan lain-lain.
Salah satu agama yang telah ada sejak dahulu sampai sekarang yaitu Yahudi. Yahudi adalah agama Bani Israil. Bani Israil merupakan kaum yang diutus kepada mereka Nabi Musa AS. Dia diutus kepada mereka sebagai Nabi Allah serta diberi Kitab Taurat untuk mengokohkan risalahnya. Yahudi merupakan agama yang dinisbahkan kepada Bangsa Yahud. Yahudi dinamai berdasarkan ketersambungan silsilah mereka kepada salah seorang anak Nabi Ya’qub AS, yaitu Yahudza. Oleh sebab itu, para pengikut ajaran Taurat,dikenal sebagai Bangsa Yahudi.
Selain Yahudi, agama yang juga sudah ada sejak zaman dahulu yaitu Nasrani. Nasrani adalah sebutan bagi orang-orang yang mengikuti ajaran Injil yang dibawa oleh Nabi Isa AS. Ajaran Nasrani merupakan risalah yang dibawa oleh Nabi Isa AS kepada Bani Israil setelah terjadi penyimpangan terhadap ajaran Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa AS. Penyimpangan ini menyebabkan Bani Israil terpecah kepada kelompok yang bermcam-macam. Maka Nabi Isa AS diberikan Injil oleh Allah SWT agar bisa tampil sebagai hamba Allah yang mengajak mereka kepada tauhid serta sebagai pemersatu agama Islam (millah Ibrahim). Millah Ibrahim merupakan ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS berupa seruan untuk mengesakan Allah SWT. Seruan ini kemudian dilanjutkan oleh para nabi setelahnya, seperti Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS.
Pembahasan terkait Bani Israil selalu berkaitan dengan ajaran Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa AS dan Injil yang dibawa oleh Nabi Isa AS. Penganut kedua ajaran ini dikenal dalam Al-Qur’an dengan istilah Ahlul Kitab. Sebagimana firman Allah:
ليسوا سواء من اهل الكتاب امة قائمة يتلون ءايات الله ءاناء الليل وهم يسجدون
Artinya: “Mereka itu tidak (semuanya) sama. Ada di antara Ahli Kitab yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (sholat).”
Ahlul Kitab adalah semua penganut agama Yahudi dan Nasrani, kapan, di mana pun dan dari keturunan siapa pun mereka. Ajaran mereka bersumber dari dua kitab, yaitu Taurat dan Injil. Akan tetapi, kemurnian ajaran mereka semakin lama semakin tercemar. Hal ini disebabkan oleh kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah SWT, Nabi Muhammad SAW serta terhadap Al- Qur’an yang diturunkan kepadanya.
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, salah seorang dari golongan Ahlul Kitab, yaitu salah seorang bangsa Yahudi yang tinggal di Kota Madinah, menunjukkan sifat ketidaksukaannya atas ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Dia menunjukkan sikap tersebut dengan mengadu domba antara Suku Aus dan Khazraj, yang mana kedua suku tersebut sudah memeluk ajaran islam. Orang tersebut bernama Syaas Bin Qais.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai pengingkaran Ahlul Kitab terhadap ayat-ayat Allah SWT, yaitu Al- Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Salah satu surah yang membahas tentang pengingkaran Ahlul Kitab adalah surah Ali Imran ayat 98—101. Oleh karena itu, penulis mengangkat permasalahan ini dalam bentuk karya tulis dengan judul “Penafsiran Surah Ali Imran Ayat 98—101”.
Rumusan Masalah