Tentang Saya

BIODATA
-
Nama Lengkap : Aisyah Rahmalia
-
Tempat Lahir : Lurah
-
Tanggal Lahir : 04 Juni 2006
-
Jenis Kelamin : Perempuan
-
Motto Hidup : Hiduplah Seperti Larry
RIWAYAT PENDIDIKAN
-
TK : Tunas Harapan
-
SDN : SDN 15 Kapalo Koto
-
MTs : MTsS Diniyah Limo Jurai
-
MAS : MAS Diniyah Limo Jurai
Abstrak
Makalah ini ditulis oleh Aisyah Rahmalia, NID/NISN: 131213060017230559/0063882580, dengan judul Penafsiran Surah Ali 'Imran Ayat 139-143, di Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, berisi 38 halaman.
Masalah yang penulis bahas dalam karya tulis ini adalah bagaimana qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali 'Imran Ayat 139-143? Batasan masalah karya ilmiah ini adalah penafsiran surah Ali 'Imran Ayat 139-143 berdasarkan pandangan ahli tafsir. Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali 'Imran Ayat 139-143.
Dalam proses penelitian, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Jenis penelitian kepustakaan ini adalah dengan mencari dan membaca buku-buku(literatur)yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas untuk meletakkan landasan teori dalam membahas kandungan ayat. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan. Penulis menggunakan beberapa kitab tafsir, di antaranya: Tafsir Al-Mishbah, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Munir, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Thabari, Tafsir Al-Qurtubi, Tafsir Al-Maraghi, Safwah At-Tafasir dan beberapa kitab tafsir lainnya. Selain kitab-kitab tafsir, penulis juga mengambil referensi dari jurnal dan buku yang berkaitan dengan penafsiran.
Hasil dari pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini, adalah penafsiran surah Ali 'Imran Ayat 139-143 yaitu mengenai tujuan Allah SWT dalam menetapkan syariat, dinamika godaan orang yang mengikuti hawa nafsu, serta luasnya rahmat Allah SWT dengan menerima taubat hamba-Nya. Ayat ini secara khusus menyoroti keinginan Allah SWT untuk menjelaskan hukum-hukumnya dan membimbing umat manusia kepada jalan kebaikan dengan adanya keringanan hukum yaitu mengizinkan pernikahan dengan budak wanita mukmin bagi yang tidak mampu menikahi wanita merdeka. Dijelaskan pula bahwa tujuan orang yang mengikuti hawa nafsu adalah untuk menyimpangkan manusia dari kebenaran menuju kepada kebatilan dengan penyimpangan yang sejauh-jauhnya. Namun. Di tengah peringatan tersebut, ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT Maha Penerima Taubat.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Allah SWT menurunkan al-Qur’an bagi umat manusia, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada malam Lailatul Qadr, sebagaimana firman Allah SWT : Artinya : Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.
Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW secara bertahap, yang mana Allah SWT menyampaikan kalam-Nya kepada beliau melalui perantara Malaikat Jibril. Dalam menyampaikan risalah yang agung ini, Rasulullah SAW tidak hanya sekadar menerima kemudian menyampaikan kepada kaum-Nya dan mereka langsung menerima dengan lapang dada. Sebaliknya, beliau menghadapi banyak rintangan dan ujian, terutama dari sikap kaum Quraisy yang keras kepala dan penuh keangkuhan. Maka, al Qur’an turun pada beliau sebagai bentuk penguat hati, hiburan, serta sebagai bentuk penyesuaian dengan peristiwa dan kejadian yang terjadi hingga akhirnya Allah SWT menyempurnakan agama ini.
Atas dasar kesabaran dan ketabah terhadap ujian beliaulah, hingga saat ini kita merasakan kejayaan agama yang agung ini. Oleh karena itu, dari sifat mulia beliau kita dapat belajar bahwasanya apa pun bentuk ujian yang diberikan kepada kita, hendaknya kita senantiasa untuk bersabar. Sebab, kunci dari sebuah keberhasilan yang memuaskan terletak pada tingkat kesabaran seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Artinya: Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, atau kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan hal itu
Sepanjang kehidupan Rasulullah, kita dapat mengambil banyak pelajaran tentang kesabaran terhadap segala ketetapan Allah SWT, tidak ada perbedaan derajat dihadapan-Nya karena semua hamba sama dimata Allah. Salah satu ujian berat yang dihadapi oleh Rasulullah ketika pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib gugur di tangan Wahsyi dalam perang Uhud. Pada saat perang Uhud tersebut Wahsyi melihat Hamzah bin Abdul Muthalib menghabisi pasukan Quraisy dengan pedangnya tanpa tersisa, dan kemudian Wahsyi melihat Siba' bin Abdul Uzza lebih dahulu menghampiri Hamzah bin Abdul Muthalib dibanding dirinya, melihat hal itu ia menyeru “kemarilah!” kemudian dia menghabisi Siba’ bin Abdul Uzza. Setelah menyaksikan hal tersebut, Wahsyi melemparkan tombak kearah Hamzah bin Abdul Muthalib dan mengenai bagian bawah perutnya, mengakibatkan Hamzah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menghampiri Wahsyi. Beberapa waktu kemudian, Wahsyi menghadap Rasulullah dan diketahuilah bahwa dialah yang membunuh Hamzah, beliau mengusirnya dan memalingkan wajahnya dari Wahsyi. Respon Nabi terhadap Wahsyi menunjukan bahwa perbuatannya telah menimbulkan kemarahan Beliau. Namun, demi menahan amarah dan memilih untuk bersabar, Nabi lebih memilih untuk meminta Wahsyi pergi daripada melampiaskan kemarahannya
Di sisi lain, dalam perang Uhud bukan hanya Rasulullah yang diuji dengan kehilangan pamannya. Para mujahid5 yang mengalami kesedihan akibat kekalahan. Namun, Allah SWT menegaskan bahwa mereka tidak boleh merasa lemah dan berlarut-larut dalam kesedihan, karena musuh mereka pun mengalami penderitaan yang serupa. Allah SWT tidak membenarkan seorang hamba menjadikan masalah, kegalauan, dan kesulitan sebagai alasan untuk terus-menerus berada dalam kesedih. Sebaliknya, setiap kesulitan harus dijadikan sebagai pelajaran yang berharga. Karena kesulitan dan masalah tidak akan hilang ketika kita hanya duduk dan berdiam diri mengharapkan masalah itu pergi dengan sendirinya.
Oleh karena itu, seorang muslim yang berusaha mengamalkan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW hendaknya senantiasa untuk bersabar dan tabah terhadap berbagai cobaan. Allah SWT tidak mungkin memberi cobaan tanpa hikmah dibaliknya. Berdasarkan apa yang telah diuraikan sebelumnya, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai sikap sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah SWT dalam karya ilmiah yang berjudul “Penafsiran Surat Ali Imran Ayat 139—143.”
Rumusan Masalah