Tentang Saya

BIODATA

  • Nama Lengkap : Muhammad Zaki Anmawi
  • Tempat Lahir : Batam
  • Tanggal Lahir : 29 Maret 2006
  • Jenis Kelamin : Laki-laki
  • Motto Hidup : Berdiri di Kaki Sendiri

RIWAYAT PENDIDIKAN

  • TK : RA Baitul Falah
  • SD : SDN 002 Batu Aji
  • SMP : SMP BP Tahfidz At-Taubah Batam
  • MAS : MAS Diniyah Limo Jurai

Abstrak

Karya Ilmiah ini disusun oleh Muhammad Zaki Anmawi, NID/NISN 131213060017230531/0064112842. Karya ilmiah ini berjudul Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 116—117, di MAS Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, berisi 39 halaman.

Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah bagaimana penjelasan surah Ali ‘Imran ayat 116—117 menurut ahli tafsir. Batasan masalah dalam karya ilmiah ini adalah qawaid tafsir, qawaid lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 116—117. Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui penjelasan surah Ali ‘Imran ayat 116—117 menurut ahli tafsir.

Dalam proses penulisan, penulis menggunakan jenis studi kepustakaan (library research). Jenis penulisan kepustakaan dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur) yang berkaitan dengan permasalahan untuk meletakkan landasan teori. Penulisan ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penulisan ini yaitu, dengan mengumpulkan tafsir-tafsir yang berkaitan dengan masalah pembahasan, dan penulisan makalah ini dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, diantaranya: Tafsir Anwa’u at- Tanzil wa Asrar at-Takwil, Tafsir al-Qurthubi, Hadaiq ar-Ruh wa ar-Raihan, Tafsir Bahrul Muhith, Aisarut Tafasir, Tafsir al-Maraghi, Tafsir marah labid, Shafwatu at-Tafasir, Tafsir al-Munir, Tafsir Qur’an al-Azim.

Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam dalam karya ilmiah ini, yaitu: Surah Ali ‘Imran ayat 116—117 termasuk ke dalam surah madaniyah yang diturunkan di Kota Madinah dan sekitarnya, dengan kandungan qawa’id tafsir yang mencakup pengenalan surat, munasabah antar ayat, status makkiyah-madaniyah, serta keutamaan ayat-ayatnya. Dari sisi qawa’id lughawiyah, ayat ini juga mengandung pembahasan mengenai mufradat ammah (kosakata umum) dan i‘rab (kedudukan kata dalam susunan kalimat) yang semakin memperkaya pemahaman terhadap makna yang terkandung di dalamnya. Adapun dari sisi kandungan atau fawaid, ayat 116 dan 117 menegaskan bahwa kekayaan, status, dan keturunan tidak memiliki kekuatan apa pun di hadapan azab Allah. Segala bentuk kebanggaan duniawi yang dijadikan sandaran oleh orang-orang kafir sama sekali tidak dapat menyelamatkan mereka. Bahkan infak atau amal yang tampak mulia sekalipun akan sia-sia jika tidak dibangun di atas iman, niat yang benar, dan ketauhidan. Amal tanpa landasan akidah yang lurus diibaratkan tanaman yang hancur diterpa angin dingin, tidak meninggalkan manfaat dan tidak mendapat nilai di sisi Allah SWT.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Bagian ini mengemukakan apa yang akan di bahas dari ayat yang sudah ditentukan untuk diambil faedahnya, dan bukan untuk mencari masalah yang harus dikaitkan dengan ayat.

Rumusan Masalah

Bagian ini menjelaskan pada ayat yang akan dilakukan penelitian. Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan kepada ayat yang sudah ditentukan saja.

Tujuan Penelitian

Bagian ini memuat penjelasan tentang sasaran yang lebih spesifik dan hal yang menjadi tujuan penelitian.

Latar Belakang Masalah

Harta merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang diberikan kepada manusia sebagai amanah yang harus dijaga dan digunakan dengan penuh tanggung jawab. Dalam pandangan Islam, harta tidak hanya bernilai sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang sangat dalam. Harta bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, asalkan dikelola dan dimanfaatkan sesuai dengan ketentuan syariat. Sebaliknya, jika disalahgunakan atau dijadikan alat untuk kesombongan, maka harta justru bisa menjadi fitnah dan membawa kebinasaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Salah satu cara pemanfaatan harta yang ditekankan dalam Islam adalah infak. Infak berarti mengeluarkan sebagian harta atau rezeki yang dimiliki seseorang untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh Allah SWT, baik dalam bentuk wajib maupun sunnah1. Dalam Al-Qur’an, infak sering disebutkan berdampingan dengan salat sebagai bukti nyata dari keimanan seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa infak bukan hanya urusan sosial, tetapi juga merupakan ibadah yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Infak juga menjadi tanda nyata dari keimanan dan ketakwaan seorang hamba, karena menunjukkan kesediaan untuk mengorbankan kepentingan pribadi demi kemaslahatan yang lebih luas.

Namun, Al-Qur’an juga memnyoroti fenomena orang-orang kafir yang menginfakkan harta mereka. Mereka pun kadang mengeluarkan harta dalam jumlah besar untuk berbagai tujuan, namun motivasinya berbeda. Infak mereka tidak didasarkan pada keimanan kepada Allah SWT, melainkan bertujuan untuk kesombongan, kepentingan duniawi, atau bahkan sebagai sarana untuk menentang kebenaran dan melemahkan kaum beriman. Sudah jelas sekali bahwasannya orang kafir tidak menyembah Allah SWT.

Berdasarkan paparan di atas, penulis tertarik untuk menguraikan lebih rinci tentang bagaimana mereka akan mendapatkan balasan dari Allah SWT di dunia dan di akhirat dalam bentuk karya ilmiah dengan judul “Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 116—117”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dirumuskan hal yang menjadi pokok permasalahan dari pembahasan ini, yaitu:

  • Bagaimana qawa’id tafsir Surah Ali ‘Imran ayat 116—117?
  • Bagaimana qawa’id lughawiyah terhadap Surah Ali ‘Imran ayat 116— 117?
  • Bagaimana fawaid ayat Surah Ali ‘Imran ayat 116—117?

Tujuan Penelitian

I

Untuk mengetahui qawa’id tafsir Surah Ali ‘Imran ayat 116—117.

II

Untuk mengetahui qawa’id lughawiyah terhadap Surah Ali ‘Imran ayat 116—117.

III

Untuk mengetahui fawaid ayat Surah Ali ‘Imran ayat 116—117.