Tentang Saya

Biodata
-
Nama Lengkap : Azikrul Haqqi
-
Tempat Lahir : Limo Suku
-
Tanggal Lahir : 15 Desember 2006
-
Jenis Kelamin : Laki-Laki
-
Moto Hidup : Do it dulu Baru Duit!
Riwayat Pendidikan
-
TK : Al-Irsyad Bulaan Kamba
-
SD : SDN 18 Tangah Koto
-
MTs :MTs.S Diniyah Limo Jurai
-
MAS : MAS Diniyah Limo Jurai
Abstrak
Karya Ilmiah ini disusun oleh Azikrul Haqqi, NID/NISN: 12123060034193206/0067857632, Judul: Penafsiran Surah Ali 'Imran Ayat 104—105, Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai, Sungaipua, 2025, 67 hlm.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah bagaimana Qawai'd tafsir, Qawa'id lughawiyah, dan Fawaid ayat surah Ali 'Imran ayat 104—105. Batasan masalah karya ilmiah ini hanya fokus pada penafsiran surah Ali 'Imran ayat 104—105. Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui Qawa'id tafsir, Qawa'id lughawiyah, dan Fawaid ayat surah Ali 'Imran ayat 104—105.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah kepustakaan (library research), yaitu mencari dan membaca buku-buku (literatur) yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas untuk meletakkan landasan teori dalam membahas kandungan ayat. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan. Penulis menggunakan beberapa tafsir: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Mishbah, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Aysarut Tafasir, Al-Jami' Li Ahkam Al-Quran (Tafsir Al-Qurthubi), Tafsir As-Sam'ani, Tafsir Marah Labid, Tafsir Al-Wajiz Fii Tafsir Al-Kitab Al-'Aziz, Tafsir Ibnu Al-Jauzi, Tafsir Shafwah At-Tafasir, dan Tafsir Al-Mukhtasar Fii At-Tafsir.
Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini, yaitu Surah Ali 'Imran merupakan surah madaniah termasuk ayat 104—105. I‘rab pada ayat ini tidak begitu sulit. Qawa‘id Tafsir yang menonjol yaitu mantuq dan mafhum. Balagah yang terdapat pada ayat 104—105 ini adalah Thibaaq Muqaabalah dan Qashru Shifatin 'Alaa Mausuufin.
Kata kunci: Tafsir tahlili ; Penafsiran para mufasir pada Surah Ali 'Imran ayat 104—105 terdapat beberapa kandungan. Pertama, perintah Allah SWT untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar dengan uslub ummah yang terdapat ikhtilaf ulama. Kedua, Allah SWT akan menganugerahi kemenangan bagi hamba yang mengerjakan perintah ini. Ketiga, larangan Allah SWT berpecah-belah dan berselisih ketika datangnya ayat-ayat Allah SWT, dan ayat ini adalah bantahan Allah SWT kepada Ahli Kitab yang berselisih setelah datang bukti yang nyata (ayat-ayat Allah SWT), azab yang sangat pedih akan ditimpakan kepada mereka. Tidak hanya itu, Allah SWT juga mendatangkan uslub mubalaghah sebagai akhir yang tajam dan sangat menusuk untuk orang-orang yang berselisih setelah datangnya ayat-ayat Allah SWT
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Allah SWT adalah pencipta alam semesta termasuk isinya, yaitu manusia. Nabi Adam AS sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dari tanah dan diberikan nafsu, kemudian dari tulang rusuknya Allah SWT ciptakan Siti Hawa. Keturunan dari Nabi Adam AS dan Siti Hawa lahir sampai saat ini. Penciptaan manusia di muka bumi ini mempunyai misi yang sangat jelas dan pasti. Ada tiga misi bersifat pemberian (given), yaitu manusia diberi tugas untuk mengemban misi yang diberikan oleh Allah SWT untuk beribadah agar menjadi orang yang bertakwa, misi fungsional sebagai khalifah, dan misi operasional untuk memakmurkan bumi. Di antara ketiga misi di atas yang paling utama adalah misi untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur‘an: Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S Az-Zariyat [51] : 56).
Beribadah kepada Allah SWT adalah mengerjakan segala hal yang Allah sukai dan ridai serta menjauhi hal yang Allah SWT murkai. Segala hal yang Allah SWT sukai dan ridai pasti merujuk kepada kebaikan. Salah satu bentuk ibadah yang Allah SWT sukai dan perintahkan adalah mengajak manusia untuk berbuat baik serta mencegahnya dari perbuatan yang tercela. Orang-orang yang melaksanakan ajakan tersebut adalah mereka yang akan memperoleh keberuntungan dan kemenangan yang telah Allah SWT siapkan di sisi-nya. Tentu saja untuk mengajak orang melakukan kebaikan, diperlukan hubungan silaturahmi ukhuah islamiah yang kuat. Allah SWT melarang hamba-Nya untuk bercerai berai serta memberikan ancaman bagi orang yang bercerai berai yakni, akan ditimpakan azab yang sangat pedih. Hal ini terdapat dalam hadis Rasulullah SAW: Artinya: "Allah SWT yang Maha Besar dan Maha Kuasa berfirman. "Aku adalah yang Maha Pengasih (Ar-Rahman). Aku membuat ikatan persaudaraan dan memberinya nama dari nama-Ku. Jika siapa saja mempertahankan ikatan silaturahmi, maka aku akan mempertahankan hubungan dengannya. Dan Aku akan memutus hubungan dengan siapa saja yang memutuskan silaturahmi."
Hadis di atas menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan ancaman yakni, dengan memutus silaturahmi kepada orang-orang yang bercerai-berai setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. Allah SWT berterus terang akan memberikan azab yang sangat pedih bagi orang-orang yang bercerai-berai setelah datang bukti yang nyata kepada mereka di dalam Al-Qur‘an: Artinya : "Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Q.S Ali 'Imran [3]:105)
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas tentang perintah Allah SWT untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran serta balasan berupa azab yang sangat pedih bagi kaum yang bercerai-berai setelah datang bukti yang nyata ( ayat-ayat Allah SWT ) kepada mereka dalam bentuk karya tulis ilmiah yang berjudul “Penafsiran Surah Ali 'Imran Ayat 104—105.”
Rumusan Masalah