Tentang Saya

BIODATA

  • Nama Lengkap : Ahmad Danil
  • Tempat Lahir : Sungai Pua
  • Tanggal Lahir : 01 November 2007
  • Jenis Kelamin : Laki-laki
  • Motto Hidup : Hiduplah seperti lary,sehat tanpa obat,pontang panting tanpa doping,dikasih cobaan kita cobain,dikasih tantangan kita tantangin,MENYALA KING

RIWAYAT PENDIDIKAN

  • TK:Tunas Harapan
  • SD : SDN 04 Kapalo Koto
  • MTsS:MTsS Diniyah V JUrai
  • MAS : MAS Diniyah V Jurai

Abstrak

Ahmad Danil,Ahmad Danil NID/NISN 131213060017230505/0073305310, Judul: Penafsiran Surah Ali ‘Imran ayat 93—95, Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, 47 hlm.

Masalah yang penulis bahas dalam karya tulis ini adalah tentang penafsiran surat Ali ‘Imran ayat 93—95. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengtahui qawaid tafsir, qawaid lughawiyah dan fawaid ayat pada surat Ali ‘Imran ayat 93—95. Proses penelitian menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur)yang berkaitan dengan permasalahan. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang berhubungan dengan pembahasan. Penulis menggunakan beberapa tafsir, di antaranya; Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Maraghi, TafsirAl-Jalalayn, dan kitab tafsir lainnya.

Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini yaitu: pada qawaid tafsir terdapat perkenalan tentang surat Ali ‘Imran, pada qawaid luhgawiyah menjelaskan bahwa surat Ali ‘Imran ayat 93—95 memiliki kata perintah yang bermakna kecaman, fawaid ayat surat Ali ‘Imran pada ayat 93 ini turun karna kaum Bani Israil mengklaim atas pengharaman makanan tertentu yang berdasarkan syariat yang mereka anut, mengatakan bahwa Nabi Ibrahim dan generasinya sebelumnya telah mengharamkan daging dan susu unta. Padahal itu adalah pengharaman Nabi Ya’qub atas dirinya sendiri bukan berdasarkan syariat.

Adapun Ayat 94 ini menjelaskan tentang kecaman Allah SWT terhadap orang-orang yang memalsukan agama untuk kepentingan duniawi dengan cara mengada-adakan hukum atau mengkalim sesuatu dan mengatakan itu adalah ajaran atau syariat dari Allah SWT.

Ayat 95, membahas tentang pentingnya memberikan bukti wahyu yang benar agar tidak menyesatkan dan juga membahas tentang perintah Allah untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim yang lurus.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Bagian ini mengemukakan apa yang akan di bahas dari ayat yang sudah ditentukan untuk diambil faedahnya, dan bukan untuk mencari masalah yang harus dikaitkan dengan ayat.

Rumusan Masalah

Bagian ini menjelaskan pada ayat yang akan dilakukan penelitian. Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan kepada ayat yang sudah ditentukan saja.

Tujuan Penelitian

Bagian ini memuat penjelasan tentang sasaran yang lebih spesifik dan hal yang menjadi tujuan penelitian.

Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat muslim yang diturunkan Allah SWT kepada nabi muhammad SAW melalui perantaraan malaikat jibril sebagai rahmat yang tidak ada tandingannya bagi alam semesta. Al-Qur’an juga sebagai kitab suci terakhir diturunkan yang isinya mencakup segala pokok-pokok syariat yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dan sebagai petunjuk bagi umat manusia yang bertujuan untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di dalam al-Qur’an juga terdapat sesuatu yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan seperti makanan. Makanan yang dikonsumsi harus jelas halal dan haramnya. Melihat ramainya produk-produk makanan yang beredar disekitar kita seharusnya membuat seseorang harus lebih selektif dalam menentukan pilihannya. Seseorang hendaknya jeli melihat aspek kehalalan dan kesehatannya. Dalam al-Qur’an terdapat seruan untuk mengkonsumsi makan halal dan sehat sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 88:

وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلا طَيِّبا وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي أَنتُم بِهِۦ مُؤمِنُ

Artinya: "Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya".

Dalam tafsir Ath-Thabari, ayat ini ditujukan lebih khusus kepada orang-orang mukmin untuk takut melampaui batasan batasan Allah SWT yaitu menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT dan mengharamkan apa yang dihalkan oleh Allah SWT. Menurut As-Sa'di, ayat ini untuk menegaskan kepada orang beriman agarjangan seperti orang musyrik yang suka sekali menghalalkan apa yang diharamkan danmengharamkan apa yang dibolehkan.Makanlah apa yang diberikan Allah kepadamu,jangan kamu makan dari harta hasil curian,rampasan,atau dari harta yang tidak halal. Pada masa sekarang ini, banyak orang yang tidak peduli lagi apakah makananyang dimakannya halal atau haram, sesuai dengan apa yang digambarkan dalam hadistRasulullah SAW berikut:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ, أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Artinya:akan datang kepada manusia suatu masa, di mana orang tiada peduli akan harta apa yang diambilnya, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram (HR. Bukhari dalam Kitab Shahih Bukhari no. 2083 dari Abu Hurairah RA).

Banyak orangyang sudah tidak peduli lagi mana haram mana halal dalam mencari rezekinya yang terpenting adalah mendapatkan rezeki itu, padahal yang paling penting menurut AllahSWT bukan hasil namun proses, proses yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula dan berlaku sebaliknya.Proses yang baik ialah proses mencari rezeki denganmemperhatikan aturan Allah SWT termasuk kewajiban harus makan dari harta yanghalal dan thayyib.

Pengetahuan dan pemahaman merupakan dua hal yang sama, tetapi tidak serupa. Seseorang yang memiliki pengetahuan terkait makanan halal, belum tentu memiliki pemahaman terhadap makanan halal. Akan tetapi, seseorang yang memiliki pemahaman terkait makanan halal sudah tentu memiliki pengetahuan tentang makanan halal.

Makanan merupakan segala sesuatu yang dapat dikonsumsi baik berasal dari darat maupun dari laut, makanan dapat diartikan dengan tha’am, aklun, dan ghidha’un yang berarti mencicipi sesuatu dan atau memasukan sesuatu kedalam perut melalui mulut, ghidza juga menjadi kata serapan gizi dalam bahasa Indonesia. Di dalam Islam makanan terbagi atas makanan haram dan halal.

Adapun makanan halal adalah makanan yang dibolehkan dalam syariat Islam untuk menkonsumsinya yaitu sesuai dengan al-Qur’an dan Hadist Nabi SAW. Di dalam al-Qur’an banyak ayat yang membahas tentang makanan halal dan haram, salah satunya surat Ali ‘Imran ayat 93—95 yang dimana pada masa Nabi Muhammad, kaum Yahudi bertanya-tanya tentang makanan yang halal dimakan oleh umat Islam tetapi haram dimakan bagi kaum Yahudi. Dalam surah Ali ‘imran ayat 93—95 diturunkan sebagai jawaban atas pertanyaan orang Yahudi kepada umat Islam.

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan oleh penulis di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang makanan yang halal bagi umat Islam akan tetapi diharamkan untuk kaum Yahudi dalam surah Ali ‘Imran ayat 93—95 yang berjudul “Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 93—95”.

Rumusan Masalah

Melihat dari latar belakang masalah yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dirumuskan hal-hal yang menjadi pokok pembahasan dari karya ilmiah ini mencakup:

  • Bagaimana qawaid tafsir surah Ali ‘Imran ayat 93—95?
  • Bagaimana qawaid lughawiyah dari surah Ali ‘Imran 93—95?
  • Bagaimana fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 93—95?

Tujuan Penelitian

1

mengetahui qawa'id tafsir surah ali imran ayat 93-95

2

mengetahui qawa'id lughawiyah surah ali imran ayat 93-945

3

mengetahui fawaid ayat surah ali imran ayat 93-95