Tentang Saya

BIODATA
-
Nama Lengkap : Habib burrahman
-
Tempat Lahir : bukittinggi
-
Tanggal Lahir : 15 April 2006
-
Jenis Kelamin : Laki-Laki
-
Motto hidup : Hidup santai masa depan cerah
RIWAYAT PENDIDIKAN
-
TK 2012-2013: TK diniyah limojurai
-
SD 2013-2019: SDN 03 limosuku
-
SMP 2019-2022: MTSs diniyah limojurai
-
SMA 2022-2026: MAS diniyah limojurai
Abstrak
Karya Ilmiah ini disusun oleh Habib Burrahman, NID/NISN: 131213060017230521/0065125206, Karya ilmiah ini berjudul Penafsiran Surah Ali ‘Imran ayat 106—109 , di MAS Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, berisi 45 hal.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah bagaimana Qawa'id Tafsir, Qawa'id Lughawiyah, dan Fawaid Ayat surah Ali ‘Imran ayat 106—109. Batasan masalah dalam karya ilmiah ini memfokuskan pada penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 106—109. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 106— 109
Dalam proses penelitian, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu mencari dan membaca buku-buku (literatur) yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam landasan teori. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu dengan mengumpulkan tafsir-tafsir yang berkaitan dengan pembahasan, di antaranya: Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Qurtubi dan kitab tafsir lainnya.
Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini, yaitu surah Ali ‘Imran ayat 106—109 termasuk Madaniah. Dalam surah Ali ‘Imran ayat 106—109, terdapat pembahasan mengenai gambaran kondisi manusia pada hari kiamat, wajah-wajah mereka akan terbagi menjadi dua golongan: putih berseri dan hitam legam. Wajah yang menjadi hitam adalah milik mereka yang kufur setelah beriman, sebagai simbol kehinaan dan azab yang akan mereka terima. Sebaliknya, wajah yang putih adalah milik orang-orang yang tetap beriman, sebagai tanda kemuliaan dan kebahagiaan mereka di sisi Allah. Allah menegaskan bahwa semua urusan kembali kepada-Nya, dan Dia tidak zalim terhadap hamba-hamba-Nya. Ayat-ayat ini menekankan keadilan ilahi, akibat dari kekufuran dan pahala bagi keimanan, serta kepastian kembalinya segala perkara kepada kehendak Allah.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Akhir zaman sering digunakan dalam konteks agama dan filosofi untuk merujuk pada periode waktu di masa depan ketika beberapa peristiwa penting atau perubahan besar diprediksi akan terjadi. Definisi akhir zaman dapat bervariasi tergantung pada kepercayaan dan pandangan keagamaan individu atau kelompok.1 Islam menyebut akhir zaman sebagai hari kiamat, yaitu hari kehancuran alam semesta dan kehidupan di dalamnya.
Al-Qur'an menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang akan terjadi pada hari itu, termasuk bangkitnya manusia untuk diadili, surga dan neraka sebagai tempat akhir bagi orang-orang beriman dan kafir, serta datangnya Mesias dan Nabi Isa sebelum kiamat.2 Semua itu menggambarkan betapa dahsyat dan pasti terjadinya hari tersebut, sehingga manusia diingatkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi keburukan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peringatan tentang kiamat dalam Al-Qur’an bukan hanya sekadar gambaran peristiwa masa depan, tetapi juga pelajaran penting agar manusia senantiasa bersiap diri menghadapi kehidupan akhirat.
Peristiwa akhir zaman dalam ajaran islam menggambarkan fase kehidupan dunia yang akan berakhir dengan berbagai peristiwa dahsyat, termasuk pembalasan bagi manusia sesuai dengan amal perbuatannya. Al-Qur'an memberikan berbagai gambaran tentang keadaan manusia di akhirat, salah satunya. Ayat ini menegaskan adanya perbedaan nasib bagi orang-orang beriman dan orang-orang kafir serta mereka yang memiliki amalan buruk. Orang-orang yang beriman akan mendapatkan kebahagiaan yang ditandai dengan wajah yang berseri-seri, sementara orang-orang kafir atau mereka yang memiliki amalan buruk akan mendapat azab berupa mengalami kehinaan dengan wajah yang gelap muram. Kondisi ini menjadi gambaran bagaimana keadilan Allah SWT ditegakkan di akhirat, dan setiap manusia akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatannya selama di dunia pada akhir zaman.
Allah SWT berfirman dalam surah ‘Abasa ayat 38–42 yang berbunyi: Artinya: Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri(38), tertawa lagi gembira ria(39). Pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram)(40), dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan)(41). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka(42)
Ayat ini menjelaskan bahwasanya Allah SWT mengingatkan manusia tentang dua golongan yang akan menerima balasan berbeda di akhirat. Mereka yang beramal baik akan merasakan kebahagiaan dan pahala, sedangkan mereka mereka yang mengabaikan kebaikan dan hidup dalam kezaliman akan menerima penyesalan dan penderitaan. Ayat ini juga memberi peringatan bagi orang-orang kafir dan mereka yang berbuat buruk menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah ujian, dan balasan sejati akan diperoleh di akhirat.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang kehidupan setelah kematian secara mendalam melalui karya ilmiah berjudul “Penafsiran surah Ali ‘Imran Ayat 106—109”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan ini:
- Bagaimana qawa’id tafsir dalam surah Ali ‘Imran ayat 106— 109?
- Bagaimana qawa’id lughawiyah dalam surah Ali ‘Imran ayat 106—109?
- Bagaimana fawaid dalam surah Ali ‘Imran ayat 106—109?