Tentang Saya

BIODATA

  • Nama Lengkap: Hanifatul Husna
  • Tempat Lahir: Bukittinggi
  • Tanggal Lahir: 30 Mei 2006
  • Jenis Kelamin: Perempuan
  • Motto Hidup: Tetap Bernapas

RIWAYAT PENDIDIKAN

  • TK: TK Islam Ibnu Syam
  • SD: SD Negeri 13 Limo Suku
  • MTs: MTsS Diniyah Limo Jurai
  • MA: MAS Diniyah Limo Jurai

Abstrak

Karya Ilmiah ini disusun oleh Hanifatul Husna, NID/NISN 1306127005060003/0068416364, Judul: PENAFSIRAN SURAH ALI ‘IMRAN AYAT 155—158, MAS Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, berisi 77 halaman.

Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah, dan fawa’id ayat surah Ali ‘Imran ayat 155—158.Batasan masalah dalam dalam karya ilmiah ini adalah penjelasan tentang penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 155—158 berdasarkan beberapa kitab tafsir.Adapun tujuan penulisan makalah ilmiah ini untuk mengetahui qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah, dan fawa’id ayat surah Ali ‘Imran ayat 155—158.

Dalam proses penelitian, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Jenis penilitan kepustakaan dengan mencari dan membaca buku-buku (literature) yang berkaitan dengan permasalahan untuk meletakan landasan teori. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, diantaranya: Tafsir Al-Maraghi, Shafwah At-Tafasir, Tafsir Zad Al-Masir fi Ilmi Tafsir, Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Muyassar, Tafsir Al-Azhar, Tafsir An-Nuur, Tafsir Al-Mishbah, Tafsir Al-Munir, Aisarut Tafasir, Tafsir Al-Qurtubi, Tafsir Ar-Razi, dan Tafsir Al- „Utsaimin. Selain kitab-kitab tafsir, penulis juga mengambil referensi dari jurnal dan buku-buku yang terkait dengan masalah yang terdapat dalam ayat tersebut.

Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam ayat ini, yaitu: qawa'id tafsir, terdapat di dalamnya Asbabun nuzul, munasabah ayat, qira'at ayat, makkiyah madaniyah, takhshis, dan i'tibar. Qawa'id lughawiyah terdapat di dalamnya mufradat 'amah, i‘rab, dan balaghah. Fawa'id ayat, terdapat di dalamnya makna ijmali, penafsiran surah Ali 'Imran ayat 155—158, dan fawa'id ayat. Menurut penafsiran para mufassir pada surah Ali 'Imran ayat 155—158 terdapat beberapa kandungan. Pertama, menjelaskan kesalahan sebagian pasukan yang meninggalkan peperangan karena godaan setan yang timbul akibat dosa-dosa mereka sebelumnya. Kedua, sikap orang kafir yang menyesali kematian saudaranya di medan perang. Ketiga, terbunuh di jalan Allah SWT lebih baik dari harta di dunia. Fawa'id ayat surat Ali 'Imran ayat 155—158 ini memuat beberapa segi. Segi akidah, seorang mukmin harus meyakini takdir Allah SWT. Segi akhlak, seorang mukmin dituntut untuk segera bertaubat, bersabar, dan tidak putus asa. Segi sosial, kaum mukmin harus menjaga ucapan dan saling menguatkan satu sama lain. Terakhir dari segi hukum, diwajibkan bertaubat dari dosa dan dilarang berkata tentang takdir yang bertentangan dengan akidah.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Bagian ini mengemukakan apa yang akan di bahas dari ayat yang sudah ditentukan untuk diambil faedahnya, dan bukan untuk mencari masalah yang harus dikaitkan dengan ayat.

Rumusan Masalah

Bagian ini menjelaskan pada ayat yang akan dilakukan penelitian. Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan kepada ayat yang sudah ditentukan saja.

Tujuan Penelitian

Bagian ini memuat penjelasan tentang sasaran yang lebih spesifik dan hal yang menjadi tujuan penelitian.

Latar Belakang Masalah

Mengkaji Islam dengan mengabaikan Al-Qur’an merupakan suatu langkah yang tidak akan menemukan kebenaran yang tepat. Karena, meyakini Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia yang nyata dan menempati posisi penting dalam pemikiran dan peradaban.Islam merupakan bagian penting dalam keimanan seseorang.Al-Qur’an menjadi sumber ajaran Islam yang paling utama.Sebagai kitab samawi yang terakhir diturunkan oleh Allah SWT, sudah sepantasnya Al-Qur’an menjadi penyempurna kitab-kitab sebelumnya yang mampu menjawab segala persoalan akhir zaman.

Al-Qur’an sebagai petunjuk yang diturunkan bagi manusia dalam segala aspek kehidupan.Al-Qur’an berisi segala aspek kehidupan, seperti tauhid, akidah, ibadah, akhlak, hukum, dasar-dasar ilmu pengetahuan, dan sejarah atau kisah umat pada masa lalu.Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an yang terdapat pada QS.al-A’raf ayat 52, yang berbunyi: وَلَقَدْ جِئنَاهُم بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يؤْمِنُونَ Artinya: Sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) yang telah Kami jelaskan secara terperinci atas dasar pengetahuan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dalam Al-Qur’an terdapat berbagai kisah-kisah perjalanan nabi-nabi terdahulu, termasuk Nabi Muhammad SAW.Kisah-kisah ini bertujuan sebagai pembelajaran bagi umat manusia dan dapat mengambil hikmah pada peristiwa tersebut.Salah satu kisah yang dapat diceritakan dalam Al-Qur’an adalah Perang Uhud.Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Ali ‘Imran ayat 165, Allah berfirman: أَوَلَمَّا أَصَابتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبتُم مِّثلَيهَا قلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Artinya: Apakah ketika kamu ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Perang Uhud terjadi pada hari ke-15 syawal tahun ke-3 hijriah.Alasan utama pecahnya perang ini adalah karena kaum Quraisy yang menyimpan dendam atas kekalahan mereka di Perang Badar dan ingin balas dendam atas kekalahan tersebut. Namun, dalam Perang Uhud kaum muslim mengalami kekalahan dikarenakan tiga penyebab utama. Penyebab pertama perubahan motivasi perang yang awalnya untuk melindungi agama Islam. Namun, berubah menjadi motivasi untuk memperkaya diri dengan harta rampasan perang, selain itu penyebab kedua adalah tidak adanya kedisiplinan di barisan umat muslim, dan penyebab yang terakhir adalah adanya penyusup dibarisan umat Muslim pada saat itu. Hal ini membuat pasukan Quraisy berhasil melakukan serangan balik. Setelah peristiwa ini, orang kafir mulai meragukan takdir Allah SWT, dengan mengatakan bahwa jika para syuhada’ tidak ikut berperang, mereka pasti tidak akan mati. Padahal, mati merupakan takdir mubram yaitu ketetapan Allah SWT yang bersifat mutlak dan pasti terjadi. Hal ini telah Allah SWT jelaskan dalam Q.S An-Nisa’ ayat 78: أَينَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي برُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ Artinya: Di mana pun kamu berada, kematian akan mendatangimu, meskipun kamu berada dalam benteng yang kukuh.

Sesungguhnya mati dapat datang kapan saja dan dimana saja. Bagi mereka yang menganggap telah berhasil di medan perang dan tetap hidup, sesungguhnya Allah SWT hanya belum menentukan ajal seseorang saja. Namun, jika ajal tersebut telah datang, lari dari maut tiada berguna. Mereka berpikir bahwa hidup dan mati sepenuhnya bergantung pada pilihan manusia, tanpa adanya campur tangan Allah SWT.Padahal jika mereka mati dalam keadaan berperang, itu lebih baik daripada mereka mengumpulkan harta rampasan perang. Allah SWT berfirman dalam QS Ali ‘Imran ayat 157: وَلَئِن قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ Artinya: Sungguh, jika kamu gugur di jalan Allah atau mati, pastilah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) daripada apa (harta rampasan) yang mereka kumpulkan.

Mati dalam peperangan yang bertujuan untuk membela agama dan kebenaran bukanlah suatu kerugian, melainkan sebuah keberuntungan besar. Allah SWT telah berjanji dalam ayat tersebut bahwa dia akan mengampuni dan memberikan rahmat kepada hamba-Nya yang mati syahid.

Dalam ajaran Islam, mati syahid merupakan salah satu bentuk kemulian tertinggi, karena pada saat itu manusia sedang menolong agama Allah SWT. Hal ini telah Allah SWT jelaskan dalam QS Muhammad ayat 7: يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُركُم وَيُثَبِّت أَقدَامَكُم Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Pada ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang berjuang di jalan Allah SWT akan mendapat pertolong-Nya, baik di dunia maupun di Akhirat. Namun, dalam kenyataannya tidak semua orang yang berperang dalam jalan Allah SWT memiliki niat yang ikhlas karena Allah SWT, melainkan demi kepentingan pribadi, seperti mencari harta rampasan perang.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk menguraikan lebih rinci serta menjelaskan tentang ―Apakah seseorang yang gugur dalam peperangan tetap dianggap mati syahid jika niatnya tidak murni karena Allah SWT?‖, dalam bentuk karya ilmiah dengan judul "Penafsiran Surah Ali ‗Imran ayat 155—158", karena ayat ini khusus membahas peristiwa Perang5 Uhud dan reaksi kaum mukmin terhadap musibah kekalahan di medan perang. Ayat ini juga menjelaskan bagaimana Allah SWT menilai niat, kesetiaan, dan pengaruh dosa terhadap hasil perbuatan. Selain itu, ayat ini menekankan prinsip qadar, keteguhan iman, dan hikmah dari peristiwa perang, sehingga sangat relevan untuk menelaah status kematian syahid dalam konteks niat seseorang.

Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latarbelakang masalah yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dirumuskan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dari pembahasan ini, yaitu:

  • Bagaimana qawa’id tafsir surah Ali ‘Imran ayat 155—158?
  • Bagaimana qawa’id lughawiyah surah Ali ‘Imran ayat 155—158?
  • Bagaimana fawa’id ayat Ali ‘Imran ayat 155—158?

Tujuan Penelitian

1

Mengetahui qawa’id tafsir surah Ali ‘Imran ayat 155—158.

2

Mengetahui qawa’id lughawiyah surah Ali ‘Imran ayat 155—158.

3

Mengetahui fawa’id ayat surah Ali ‘Imran ayat 155—158.