Tentang Saya

BIODATA

  • Nama Lengkap : Husni Jazila
  • Tempat Lahir : Bukittinggi
  • Tanggal Lahir : 28 Maret 2007
  • Jenis Kelamin : Perempuan
  • Motto Hidup : Jangan Lupa Bersyukur

RIWAYAT HIDUP

  • TK : TK Islam Cempaka Putih
  • SD : SDN 18 Tanggah Koto
  • MTs : MTsS Diniyah Limo Jurai
  • MA : MAS Diniyah Limo Jurai

Abstrak

Karya Ilmiah ini disusun oleh HUSNI JAZILA, NID/NISN:131213060017230525/0138957458. Karya ilmiah ini berjudul Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 199—200, di MAS Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, berisi 56 hlm.

Masalah yang dibahas dalam Karya ilmiah ini adalah bagaimana qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 199—200? Kemudian batasan masalah dalam karya ilmiah ini memfokuskan kepada penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 199—200. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 199—200.

Dalam proses penelitian, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan library research, yaitu mencari dan membaca buku-buku literatur yang berkaitan dengan permasalahan untuk meletakkan landasan teori. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu dengan mengumpulkan tafsir-tafsir yang berkaitan dengan pembahasan, di antaranya: Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Qurtubi dan kitab tafsir lainnya.

Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini, yaitu: surah Ali ‘Imran ayat 199—200 termasuk Madaniyyah. Dalam surah Ali ‘Imran ayat 199—200, terdapat pembahasan mengenai qawaidtafsir yang cukup menonjol pada surah Ali ‘Imran ayat 199—200 yaitu ‘amm dan khass. Surah ini juga memiliki qawa'id lughawiyah menonjol yaitu balaghah, yang mana dalam ayat ini terdapat kalimatyang tersusunan dalam bentuk khabar ingkari. Penafsiran ayat ini menjelaskan sebagian Ahli kitab yang tulus beriman kepada Allah SWT. Meraka taat dan patuh kepada perintah-perintah Allah SWT. Dan mereka akan mendapatkan pahala dari Allah SWT atas amalan yang mereka lakukan karena Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan amalan kebaikan hamba-Nya. Kemudian Allah SWT menutup surah ini dengan memberikan beberapa amanat kepada umat muslim, yaitu: bersabar, memperkuat kesabaran musabarah, bersiaga dan konsisten murabathah, serta bertakwa. Ini merupakan salah satu cara agar mendapatkan keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Bagian ini mengemukakan apa yang akan di bahas dari ayat yang sudah ditentukan untuk diambil faedahnya, dan bukan untuk mencari masalah yang harus dikaitkan dengan ayat.

Rumusan Masalah

Bagian ini menjelaskan pada ayat yang akan dilakukan penelitian. Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan kepada ayat yang sudah ditentukan saja.

Tujuan Penelitian

Bagian ini memuat penjelasan tentang sasaran yang lebih spesifik dan hal yang menjadi tujuan penelitian.

Latar Belakang Masalah

Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril dengan sebenar-benarnya, tanpa ada keraguan maupun kesamaran di dalamnya. Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk hidup bagi manusiadalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Sebagai pedoman, Al-Qur'an memberikanbimbingan moral, spiritual, serta hukum yang komprehensif untuk mengarahkan manusia ke jalanyang benar,sebagaimana dalam firman Allah SWT:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ ٢

Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”.(Al-Baqarah[2]:2)

Ayat ini menunjukkan bahwaorang-orang yang bertakwa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam hidup mereka. Mereka meyakini wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (Al-Qur’an) serta membenarkan kitab suci yang diturunkan Allah SWT sebelum Al-Qur’an. Mereka tidak membeda-bedakan antara satu kitab suci dengan yang lainnya, begitu pula dengan para rasul yang diutus Allah SWT. Oleh karena itu,mereka tergolong sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

Sebaliknya, orang-orang yangberpaling dari petunjuk Allah SWT dan mendustakan wahyu-Nya akan tersesat dan menerima azab yang pedih di akhirat.Hal ini, sebagaimana yang terjadi pada sebagian kaum Yahudi dan Nasraniyang mendustakan wahyu yang disampaikan oleh rasul-rasul Allah SWT, tidak mempercayai semua kitab suci yang diturunkan-Nya, serta menyembunyikan kebenaran. Mereka yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad SAW sebenarnya mengetahui bahwa beliau adalah nabi yang kedatangannya telah disebutkan dalam kitab mereka.Namun, mereka enggan mengikuti beliaukarena iri dan dengki terhadap anugerah yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Kaum Yahudi dan Nasrani disebut sebagai Ahli Kitab karena Allah SWT mengutus nabi-nabi di tengah-tengah mereka denganmembawa kitab suci dari Allah SWT. Namun,sebagian dari mereka mengubah isi kitab tersebut dan menolak ajaran yang benar. Allah SWT menurunkan Kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s dan pengikut beliau yang mengubah isi Taurat setelahnya dikenal sebagai Yahudi. Kemudian, Allah SWT menurunkan Kitab Injil kepada Nabi Isa a.s dan pengikut beliau yang merubah isi Injil disebut Nasrani.

Ahli Kitab tidak seluruhnya berada dalam kekafiran, karena di antara mereka ada yang beriman kepada Allah SWT dan kitab-kitab-Nya. Keimanan Ahli Kitab ini Allah SWT jadikan sebagai acuan bagi umat Islam. Sebagaimana yang Allah SWT jelaskan dalam surah Ali ‘Imran ayat 199, bahwa di antara Ahli Kitab terdapat orang-orang yang memiliki keimanan yang benar dan menerima Islam dengan penuh keikhlasan. Kemudian, Allah SWT menutup surah Ali ‘Imran dengan memberikan beberapa petunjuk kepada orang-orang beriman agar memperoleh keberuntungan di dunia dan akhirat

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjutmengenai karakteristik keimanan sebagian Ahlul Kitab, balasan bagi mereka, dan alasan Allah SWT menjadikan Ahli Kitab yang beriman sebagai acuan bagi umat Islam, serta petunjuk-Nya kepada orang-orang beriman sebagaimana yang terdapat dalam surah Ali ‘Imran ayat 199—200. Oleh karena itu, penulis mengangkat permasalahan ini dalam bentuk karya ilmiah dengan judul “Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 199—200”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan ini, yaitu:

  • Bagaimana qawa’id tafsir surah Ali ‘Imran ayat 199—200?
  • Bagaimana qawa’id lughawiyah surah Ali ‘Imran ayat 199—200?
  • Bagaimana fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 199—200?

Tujuan Penelitian

1

Mengetahui qawa’id tafsirsurah Ali ‘Imran ayat 199—200.

2

Mengetahui qawa’id lughawiyah surah Ali ‘Imran ayat 199—200.

3

Mengetahui fawaid ayatsurah Ali ‘Imran ayat 199—200.