Tentang Saya

BIODATA
-
Nama Lengkap : Latifa MIftahul Aini
-
Tempat Lahir : Bukittinggi
-
Tanggal Lahir : 21 Oktober 2006
-
Jenis Kelamin : Perempuan
-
Motto Hidup : 5
RIWAYAT PENDIDIKAN
-
TK : Al-Falah
-
SDN : 02 Aur Kuning
-
MTsS : Diniyah Limo Jurai
-
MAS : Diniyah Limo Jurai
Abstrak
Karya Ilmiah ini disusun olehLatifa Miftahul Aini, NID/NISN:, Judul: 131213060017230529/0061964288 Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 165–168,MAS Diniyah Limo Jurai Sungaipua, 2025, berisi 44 Halaman.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah Qawa’id Tafsir, Qawa’id Lughawiyah, dan Fawa’id Ayat surah Ali ‘Imran ayat 85–89. Batasan masalah dalam karya ilmiah ini adalah penafsiran para ahli tafsir tentang surah Ali ‘Imran ayat 85–89. Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui penafsiran para ahli tafsir tentang surah Ali ‘Imran ayat 85–89.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah Qawa’id Tafsir,Qawa’id Lughawiyah, dan Fawa’id Ayat surah Ali ‘Imran ayat 85–89.Batasan masalah dalam karya ilmiah ini adalah penafsiran para ahli tafsir tentang surah Ali ‘Imran ayat 85–89. Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui penafsiran para ahli tafsir tentang surah Ali ‘Imran ayat 85–89.
Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam ayat ini, yaitu surah Ali ‘Imran ayat 85–89 membahas nilai akidah, yaitu mengesakan Allah SWT dan rasul-Nya dalam segala aspek kehidupan. Ayat ini mengingatkan tentang kekuasaan Allah SWT dan melarang penyekutuan-Nya dalam segi apa pun serta mengingatkan tentang kewajiban umat Islam untuk taat berakidah kepada Allah SWT dan rasul-Nya, sisi hidayah yang terdapat pada ayat ini, yaitu pentingnya konsisten dalam beriman dan tidak berpaling dari kebenaran, karena Allah SWT tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir setelah beriman dan menyaksikan kebenaran yang dibawa Rasulullah SAW, balasan amalan atau perbuatan orang-orang kafir yang berpaling dari kebenaran akan mendapat laknat dari Allah SWT, para malaikat, dan seluruh manusia. Hal ini memberi pelajaran bahwasanya kekufuran dapat mendatangkan laknat dari segala sisi, kesempatan kedua bagi orang-orang yang telah terjerumus kepada jalan yang sesat masih bisa kembali kepada jalan kebenaran, yaitu kembali kepada jalan yang diridai oleh Allah SWT.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang pembacaannya menjadi suatu ibadah. Al-Qur’an berperan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Di dalamnya terdapat ajaranajaran tentang akidah, ibadah, akhlak, dan hukum-hukum yang mengatur kehidupan individu maupun masyarakat. Selain itu, Al-Qur’an juga memuat kisah-kisah umat terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW. Melalui kisah-kisah tersebut Al-Qur’an memberikan pelajaran yang berharga tentang keimanan, kesabaran, dan konsekuensi dari perbuatan manusia. Sebagai seorang Muslim kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah-kisah tersebut. Sesuai dengan firman Allah SWT Q.S Yusuf [12] ayat 11:“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
Salah satu peristiwa bersejarah yang diabadikan dalam Al-Qur’an adalah Perang Uhud. Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 Hijriah antara kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy. Awalnya, kaum Muslim memperoleh keunggulan, tetapi karena sebagian pasukan pemanah melanggar perintah Rasulullah SAW untuk2 tetap di posisinya, pasukan Kafir Quraisy berhasil melakukan serangan balik dan menyebabkan pasukan Muslim mengalami kekalahan. Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW pun terluka dan banyak sahabat gugur sebagai syuhada, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib
Kekalahan dalam Perang Uhud bukan hanya disebabkan ketidakpatuhan terhadap Rasulullah SAW, tetapi juga dipengaruhi oleh peran orang-orang munafik yang berada dalam pasukan kaum Muslim. Sebelum perang dimulai, ketika salat Subuh hampir dilaksanakan, tiba-tiba Abdullah bin Ubay bersama sepertiga anggota pasukan membelot, memilih mundur, dan kembali ke Madinah, sehingga menimbulkan keguncangan dan keresahan di pasukan Muslim1. Sikap mereka menunjukkan ketidaktulusan dalam Islam serta kecenderungan mereka untuk mencari keuntungan pribadi daripada membela agama.
Al-Qur’an menyoroti kejadian ini dalam Surah Ali-Imran ayat 165—168. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa musibah yang menimpa kaum Muslim dalam Perang Uhud adalah akibat kesalahan dari mereka sendiri serta menggambarkan bagaimana orang-orang munafik berusaha melemahkan kaum Muslim.
Pada zaman ini, banyak sekali contoh kemunafikan yang terjadi di antara kaum Muslim. Contohnya, seseorang yang mengaku Muslim dan hafiz justru sering menghina Al-Qur’an, sunnah Raslullah SAW, atau ajaran Islam. Mereka mungkin melakukannya demi popularitas. Selain itu, mereka terpengaruh oleh paham liberalisme ekstrem atau ideologi lain.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk menguraikan serta mengupas lebih lanjut mengenai permasalahan tersebut. Oleh karena itu, penulis mengangkat permasalahan ini dalam bentuk karya ilmiah dengan judul “Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 165—168”
Rumusan Masalah