Tentang Saya
BIODATA
-
Nama Lengkap : Muhammad Fakhrul Rozy
-
Tempat Lahir : Bukittinggi
-
Tanggal Lahir : 10 Dessember 2005
-
Jenis Kelamin : Laki-Laki
-
Motto Hidup : No Pain No Gain
Riwayat Pendidikan
- TK: CEMPAKA PUTIH
- SD : SDN 03 LIMO SUKU
- MTsS : MTS DINIYAH LIMO JURAI
- MAS : MAS DINIYAH LIMO JURAI
Abstrak
Karya ilmiah ini disusun oleh MHD Fakhrul Rozy, NID/NISN 121213060034193234/0058711215, judul: Penafsiran surah Ali ‘Imran Ayat 118—120, MAS Diniyah Limo Jurai, Sungaipua, 2025, 50 hlm.
Masalah yang penulis bahas dalam karya tulis ini adalah tentang qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah, fawa’id ayat Surah Ali ‘Imran ayat 118—120. Batasan masalah karya ilmiah ini adalah penafsiran Surah Ali ‘Imran ayat 118—120 menurut para ahli tafsir. Adapun tujuan untuk membuat kerya ilmiah ini adalah untuk mengetahui qawa’id tafsir, qawa’id lughawuiyah, fawa’id ayat Surah Ali ‘Imran ayat 118—120
Dalam proses penelitian, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Jenis penelitian kepustakaan dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur) yang berkaitan dengan permasalahan untuk meletakkan landasan teori. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang digunakan penelitian ini yaitu, dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, diantaranya: Tafsir Jāmi‘ Al-Bayān fī Ta’wīl Āy Al-Qur’ān, Tafsir Muyassar, Tafsir Ibnu katsir, Tafsir Jalalain, Tafsir Kalamil Mannan, Tafsir Maqatil bin Sulaiman, Tafsir Al-Maragi, Tafsir Al-Misbah, Tafsir Asy-Sya’rawi, Tafsir Taufiiqur Rahman Fi Durusil Quran
Hasil pembahasan yang di kemukakan dalam karya ilmiah ini yaitu: Surah Ali’ Imran ayat 118—120. Allah SWT memperingatkan orang-orang beriman agar tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai orang kepercayaan (bitanah). Sebab, mereka tidak akan pernah berhenti berusaha menimbulkan kerusakan dan mencelakakan. Allah SWT menjelaskan bahwa meskipun kaum muslimin mencintai mereka (karena simpati atau sifat lemah lembut), mereka tidak mencintai kaum muslimin. Mereka bahkan bergembira jika kalian ditimpa musibah, dan bersedih jika kalian mendapatkan kebaikan. Namun, jika kalian bersabar dan bertakwa, maka tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun. Allah SWT Maha mengetahui dan Maha meliputi segala sesuatu.
Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi satu sama lain. Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di negara yang majemuk, yaitu Indonesia, interaksi sosial kita tidak terlepas dari keberagaman yang ada di Indonesia. Keberagaman yang ada di Indonesia mencakup ras, suku, budaya, adat istiadat, dan agama. Keberagaman ini yang menjadikan masyarakat Indonesia hidup secara berdampingan dengan perbedaan yang ada. Sehingga tidak menutup kemungkinan interaksi antaragama. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam telah menjelaskan tentang bentuk interaksi sosial yang diperbolehkan di dalam Islam. Diantaranya adalah larangan untuk menjadikan orang kafir sebagai teman setia sebagaimana telah ditegaskan dalam firman Allah SWT:
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti. Sejak zaman Rasulullah SAW, Allah SWT, telah memerintahkan umat Islam untuk berhati-hati dalam menaruh kepercayaan terhadap orang kafir. 2 Telah banyak peristiwa sejarah yang menunjukan penghianatan yang dilakukan oleh orang kafir. Salah satunya adalah peristiwa yang dialami oleh kaum Muslim ketika perang Uhud. Allah SWT. berfirman dalam surah Al-Ma’idah ayat 51, yaitu:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu'allim); sebagian mereka menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah SWT tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."1 Ayat ini bukan larangan mutlak untuk berinteraksi dengan non-muslim, tetapi lebih kepada kewaspadaan agar kaum Muslim tidak tertipu oleh orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap Islam. Di dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 118—120 Allah SWT menegaskan bahwa kebencian mereka terhadap Islam sudah tampak dalam ucapan mereka, dan apa yang mereka sembunyikan lebih besar lagi. Mereka merasa senang jika kaum muslim tertimpa musibah, tetapi sebaliknya bersedih ketika Islam mengalami kemajuan. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan solusi agar umat Islam menghadapi situasi ini dengan kesabaran dan ketakwaan, karena dengan dua hal tersebut, tipu daya musuh tidak akan membahayakan mereka. 1(QS. Al-Ma’idah [5]: 51) 3 Kemudian di dalam Al-Qur’an Allah SWT telah memberikan tanda tanda dengan beberapa wahyu tentang sifat-sifat dan kelakuan orang yang beriman. Demikian juga sifat-sifat dan kelakuan orang yang munafik. Allah SWT memerintahkan untuk mempergunakan akal dan pikiran dalam menilai teman. Dengan perintah memperhatikan tanda-tanda itu, seorang mukmin yang mempergunakan akalnya, dapat memilih siapa yang kawan dan siapa yang lawan. Jadi bukan berarti, jika kita telah mengira, bahwa orang ini bukanlah kawan, melainkan lawan, lalu kita putuskan hubungan sama sekali atau kita bermuka keruh kepadanya.2 Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas dan menguraikan lebih lanjut Surah Ali ‘Imran ayat 118—120 dalam bentuk sebuah kajian karya ilmiah dengan judul “Penafsiran Surah Ali ‘Imran ayat 118—120”.
Rumusan Masalah