Tentang Saya

BIODATA

  • Nama Lengakap: Saskia Ramadani
  • Tempat Lahir: Sungaipua
  • Tanggal Lahir: 18 September 2006
  • Jenis Kelamin: Perempuan
  • Moto Hidup: Ingin Sukses

DAFTAR RIWAYAT PENDIDIKAN

  • PAUD: Kasih Ibu
  • TK: Sungaipua
  • SD: SDN 18 Tangah Koto
  • MTS: MTsS Diniyah Limo Jurai
  • MAS: MAS Diniyah Limo Jurai

Abstrak

Karya Ilmiah ini disusun oleh Saskia Ramadani, NID/NISN 131213060017230553/0066292770. Karya ilmiah ini berjudul Penafsiran Surah Ali ’Imran Ayat 183—184, di MAS Diniyah Limo Jurai, Sungaipua, 2025, berisi 69 hal.

Latar belakang penelitian ini terangkat dari sikap penolakan kaum Yahudi terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Rumusan masalah dalam karya ilmiah ini adalah bagaimana qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah dan fawaid ayat dari Surah Ali’Imran ayat 183—184?, kemudian yang menjadi batasan masalah dalam karya ilmiah ini adalah qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah dan fawaid ayat Surah Ali ‘Imran ayat 183—184 yang dibatasi oleh sembilan kitab tafsir yaitu: Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Kasyafi, Tafsir Al-Mahfudh, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir An-Nur. Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah dan fawaid ayat Surah Ali ’Imran ayat 183—184.

Dalam proses penelitian, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), dan menggunakan metode tahlili. Data primer terdiri dari: Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Kasyafi, Tafsir Al-Mahfudh, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ath Thabari, Tafsir An-Nur, sedangkan data sekunder berupa kitab tafsir lain, makalah ilmiah, KBBI, pendapat para ahli, internet, serta referensi akademik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa qawa’id tafsir ayat ini dapat dipahami melalui, pengenalan surah, qiraat, klasifikasi makkiyyah-madaniyyah, munasabah ayat, analisis mantuq mafhum, dan asbabunnuzul yang terdapat dalam surah Ali’Imran ayat 183—184. Dengan pendekatan ini, tafsir ayat menjadi lebih sistematis dan sesuai dengan tujuan penelitian untuk mengetahui qawa’id tafsir yang terkandung. Qawa’id lugawiyah dilakukan melalui aspek mufradat ‘ammah, i’rab, dan balaghah. Hasilnya memperlihatkan keindahan bahasa Al-Qur’an sekaligus memperkuat pesan yang disampaikan ayat. Hal ini menjawab rumusan masalah kedua dan mencapai tujuan penelitian untuk memahami qawa’idah lughawiyah secara mendalam. Fawaid ayat diuraikan melalui makna ijmali, penafsiran, serta fawa’id yang dapat diambil. Hasil penelitian menegaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran penting tentang sikap Bani Israil, sekaligus memberikan panduan moral dan spiritual bagi umat Islam. Dengan demikian, rumusan masalah ketiga terjawab, dan tujuan penelitian untuk mengetahui fawa’id ayat tercapai.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Rumusan Masalah

Bagian ini menjelaskan pada ayat yang akan dilakukan penelitian. Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan kepada ayat yang sudah ditentukan saja.

Tujuan Penelitian

Bagian ini memuat penjelasan tentang sasaran yang lebih spesifik dan hal yang menjadi tujuan penelitian.

Latar Belakang Masalah

Orang Yahudi mendustakan tentang kenabian Nabi Muhammad SAW. Mereka berbohong bahwasannya Allah SWT memerintahkan mereka untuk tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan Nabi-nabi sebelumnya. Dan orang Yahudi juga mengatakan bahwa nenek moyang mereka menyampaikan pesan untuk tidak mempercayai rasul sebelum ia menunjukkan mukjizatnya.

Mengetahui penafsiran ayat-ayat tentang Yahudi menjadi landasan paling utama untuk mengetahui isu tentang mereka dan untuk bisa memahami dan mengetahui pergerakan atau ideologi Yahudi modern yang sebenarnya. Terlepas dari itu semua bahwa Yahudi itu merupakan kisah sejarah yang ada dalam Al Qur’an yang masih diakui keberadaannya sampai sekarang. Adapun eksistensi Yahudi dalam Al-lQur’an diterangkan dalam beberapa ayat, antara lain tentang pelanggaran yang mereka lakukan baik itu terhadap Allah SWT, tidak mengakui keberadaan Rasulullah SAW, perlakuan buruk terhadap sesama manusia pun Allah SWT jelaskan dan ceritakan dalam Al-Qur’an. Namun, demikian hal tersebut bukan berarti semerta-merta Allah SWT telah mendiskriminasi kaum Yahudi. Karena pada beberapa ayat yang lain pun Allah SWT juga menjelaskan tentang kebebasan memilih dengan dan tidak sedikit Allah SWT menberikan kenikmatan yang melimpah untuk mereka1.

Yahudi mengklaim bahwa mereka adalah bangsa terpilih membuat kaum Yahudi menganggap dirinya memiliki derajat yang lebih tinggi daripada bangsa yang lain. Hal ini diperkuat dengan bukti bahwa agama Yahudi jauh lebih dulu hadir sebelum agama Islam muncul yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Dari paradigma inilah Yahudi menolak untuk mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Taurat yang menyatakan bahwa akan datangnya nabi terakhir yang akan diutus. Hal ini termaktub jelas di dalam Al Qur’an, seperti yang dijelaskan dalam QS. As-Saff ayat 6 berikut:

Artinya: (Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).” Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Ayat di atas menjelaskan kabar akan datangnya utusan terakhir setelah Nabi Isa yang bernama Muhammad SAW. Tetapi Bani Israil sengaja menyembunyikan kabar ini dari kitab sucinya. Apabila mereka berpedoman pada Taurat dengan sunggun-sungguh maka mereka akan mengimani Nabi Muhammad SAW. Bahkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul mereka selalu bertawassul dengan diri beliau. Mereka pula yang memberi gelar Al-Amin kepada Nabi. Tetapi selanjutnya mereka justru mengingkari Nabi Muhammad SAW dengan kemuliaan sifatnya, dan pada akhirnya menentang ajakan Nabi untuk mengikuti agama yang dibawa yakni agama Islam.

Orang Yahudi mempunyai perilaku buruk terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW yaitu mengadu domba antara suku Aus dan Khazraj dari kalangan Anṣar, memberi gangguan kepada orang-orang beriman, berencana membunuh Rasulullah, menghimpun seluruh kekuatan kafir untuk memerangi Islam, menghianati perjanjian, membuat penyimpangan dalam Islam.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis kemukakan di atas, dapat dirimuskan hal yang menjadi pokok permasalahan dari pembahasan ini, yaitu:

  • Bagaimanakah qawa’id tafsir Surah Ali ‘Imran ayat 183—184?
  • Bagaimanakah qawa’id lughawiyah Surah Ali ‘Imran 183—184?
  • Bagaimanakah fawaid ayat Surah Ali ‘Imran 183—184?

Tujuan Penelitian

a

Mengetahui qawa’id tafsir Surah Ali ‘Imran ayat 183—184.

b

Mengetahui qawa’id lughawiyah Surah Ali ‘Imran ayat 183—184.

c

Mengetahui faidah ayat Surah Ali ‘Imran ayat 183—184.