Tentang Saya

BIODATA
-
Nama Lengkap : Siti Mufidah Hanna Muthmainnah
-
Tempat Lahir : Bukittinggi
-
Tanggal Lahir : 20 November 2006
-
Jenis Kelamin : Perempuan
-
Moto Hidup : Apapun yang terjadi,tetap menjadi diri sendiri.
RIWAYAT PENDIDIKAN
-
TK : AZ-ZUHRA 2
-
SD : SDN 114 Pekanbaru
-
MTs : MTsS Diniyah Limo Jurai
-
MAS : MAS Diniyah Limo Jurai
Abstrak
Karya Ilmiah ini disusun Siti Mufidah Hanna Muthmainnah, oleh 131213060017230555/0069379390, Judul: Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 185-186, MAS Diniyah Limo Jurai, Sungaipua, 2024, berisi 78 halaman.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah tentang qawa’id tafsir, qawa’id lughawiyah dan fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 185-186. Batasan masalah karya ilmiah ini adalah penafsiran surah Ali‘Imran ayat 185-186 menurut para ahli tafsir. Adapun tujuan Penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 185-186.
Proses penelitian dalam karya ilmiah ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu permasalahan diselesaikan dengan mencari dan membacabuku-buku (literatur) yang berkaitan dengan landasan teori. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, diantaranya: Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Lusi, Tafsir Mawardi, Tafsir Ibnu Juzai, Tafsir Al-Misbah, Tasir Ibnu Mas’ud, Tafsir Al-Qurthubi.
Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini, yaitu: surah Ali ‘Imran ayat 185-186 termasuk kedalam golongan madaniah. Penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 185-186 menjelaskan tentang kehidupan dunia hanyalah sementara dan penuh ujian, kematian itu pasti dan mengajarkan kesabaran atas segala cobaan.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Ujian dalam kehidupan merupakan sebuah keniscayaan. Setiap manusia akan diuji dengan ukurannya masing-masing. Ada manusia yang diuji dengan kekurangan harta, kehilangan jiwa, kelaparan dan lain sebagainya. Allah SWT menguji untuk mengetahui dan memberikan pahala besar dan kabar bahagia bagi orang-orang yang bersabar atas ujian yang Allah SWT berikan. Diantara ujian yang disebutkan adalah kehilangan jiwa. Betapa banyak jiwa yang telah Allah SWT panggil lebih dahulu yang disebut dengan kematian. Kematian seringkali meninggalkan rasa kehilangan mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.
Dalam keadaan yang terjadi di dunia ini dapat ditemukan bahwa hidup dan mati pasti silih berganti, dan hal itu sunatullah dalam ciptaannya, seperti tertera dalam Q.S Ali ‘Imran ayat 26: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu'." Dari Penafsiran tersebut, dapat dikatakan di dunia hanyalah sementara, semua hal yang diberikan Allah SWT, sesuai kehendaknya. Namun berbicara mengenai kematian bukan suatu hal yang mudah untuk melupakan sebuah kepergian, akan tetapi dengan kesabaran manusia pasti bisa melaluinya.
Sikap bersabar dalam bekerja bagi orang beriman tidak akan pernah sesaat pun melepaskan diri dari ikatan aqidah Islam yang dapat menjanjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena itu, bahwa dalam ajaran Islam sikap sabar itu menempati posisi penting dan mulia sehingga Allah SWT senantiasa akan mencurahkan kenikmatan dan kemuliaan-Nya terutama bagi orang yang bersabar, yakni orang yang ketika bersabar adalah selalu bersama Tuhannya atau dikasihi Tuhan dengan kemuliaan cinta dan kasihsayang-Nya yang melimpah, asalkan orang-orang yang bersabar itu berlaku ikhlas berdasarkan aqidah Islam karena yakin kepada Allah SWT sebagai pemberi pahala dan kemulianNya. Sabar itu identik dengan sikap menahan emosi diri yang mendorong seseorang berbuat kesalahan dan kemungkaran yang dipandang dalam ajaran agama Islam.
Sabar juga dapat diartikan bahwa seseorang hamba Allah SWT dapat bertahan diri untuk tetap taat beribadah mengamalkan segala sesuatu yang diperintahkan Allah SWT dan juga menjauhkan diri atau bersikap sabar untuk tidak melakukan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT dengan ikhlas guna mengharapkan ridha dan pahala yang besar dari Allah SWT, Sebagaimana firman Allah, dalam Qs.An-Nahl 126: Artinya: "Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar."
Maka dengan selalu bersabar untuk tetap taat dan bertakwa kepada Allah SWT merupakan sesuatu yang sangat Allah SWT ridhai bagi seorang muslim. Dengan ketakwaanlah, seorang muslim bisa selalu yakin untuk menjaga keimanannya terhadap Allah SWT.
Kata “takwa” sering diartikan dengan rasa takut kepada Allah Swt yang diikuti dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya. Itulah pengertian yang dipahami oleh sebagian masyarakat Islam. Namun takwa kepada Allah SWT sangat berbeda dengan takut dalam arti biasa. Takut kepada Allah SWT itu biasanya mengarah pada ketakutan tentang hari kiamat yang dikabarkan oleh wahyu-wahyu yang turun lebih awal yang dikenal dalam surah-surah makiyah, yang artinya: “Wahai manusia bertakwalah kepada tuhanmu, sesungguhnya guncangan saat itu adalah suatu hal yang sangat mengerikan”.
Sementara takwa pada dasarnya merujuk pada sebuah sikap yang terdiri dari cinta dan takut, yang lebih jelas lagi adalah adanya kesadaran terhadap segala sesuatu atas dirinya dan bahkan merasa hatinya yang paling dalam senantiasa diketahui oleh Allah SWT, Sehingga ia senantiasa menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya2.
Maka dengan apa yang telah Allah SWT perintahkan kepada hambanya, saat hambanya mengamalkannya dan ikhlas dalam ketakwaan terhadap Allah SWT, pasti Allah SWT akan membalasnya sesuai dengan amal perbuatan hamba-Nya.
Banyak didalam Al-Quran yang menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki sifat pengasih dan penyayang kepada makhluk-Nya. Hal ini dibuktikan melalui balasan bagi orang yang banyak amal baiknya. Seperti dalam firman Allah SWT Qs. Ali Imran: 160 yang menjelaskan bahwa bagi siapa yang melakukan kebaikan, maka dia akan mendapatkan berlipat kebaikan.
"Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa gerangan yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal."
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk menguraikan serta menjelaskan secara rinci tentang kesabaran seorang muslim dalam menghadapi ujian dan menjaga ketakwaannya kepada Allah SWT dengan mengharapkan balasan yang sesuai dengan amal perbuatan, penulis memilih surah Ali ‘Imran ayat 185—186 karena ayat 185—186 ini memiliki tema yang universal dan relevan sepanjang masa, tentang kematian, ujian hidup, kesabaran dan ketakwaan. Ayat ini juga menjadi penghiburan bagi orang-orang beriman dalam menghadapi ujian hidup. Sehingga layak dikaji secara mendalam dari aspek tafsir, bahasa dan faedah ayat, maka penulis mengkaji surah Ali ‘Imran ayat 185—186 ini dengan sebuah karya ilmiah yang berjudul “penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 185—186”.
Rumusan Masalah